“AKU HANYALAH LELAKI AKHIR ZAMAN YANG PUNYA CITA-CITA”

Surabaya 4 Februari 2010 / 19 Safar 1431
Menurut surat akte kelahiran ku, saat ini aku berusia 20 tahun. Yah benar 20 tahun…dengan seizin Allah Febri bisa merasakan nikmat dunia di usianya yang keduapuluh tahun, karena tanpa seizin-Nya seorang Febri tidak akan bisa merasakan nikmat itu. Banyak nikmat Allah yang sudah diberikan kepada ku, dan ku rasa apabila nikmat itu dituliskan dengan tinta sebanyak lautan samudra tidak cukup untuk menuliskannya semua. Saya sangat bersyukur sekali diusia ku yang sudah berkepala dua ini, Allah masih mengijinkan ku bersama dengan orang-orang yang menyayangiku. Febri juga mengucapkan banyak terima kasih kepada orang yang paling berjasa dalam hidup ku, yaitu bapak dan ibu yang selalu ada dalam siang dan malam ku.

Waktu kecil (kalau boleh saya katakan Febri kecil) hanyalah seorang anak kecil yang pemalu dan penakut. Dan orang-orang katakan,, Febri kecil sangatlah patuh kepada kedua orang tua. Syukurlah kalau orang lain menilai ku dari sisi positif ku. Tetapi ku anggap itu hanya pujian biasa yang sering diucapkan seseorang yang lebih tua kepada seorang anak yang lebih muda.
Dengan segenap cinta kasihnya,, kedua orang tua ku mendidik ku dengan penuh kasih sayang. Karena aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara maka tak jarang aku sering dimanaja oleh kakak dan orang tua ku, meskipun aku tak suka dimanja. Aku tetaplah anak yang gak suka neko-neko. Banyak teman-teman ku mengatakan aku bukanlah seorang anak lelaki yang pemberani, tapi tak apalah itukan pendapat mereka tentang ku. Bagiku yang penting aku mengikuti apa kata orang tua katakan.
Hari demi hari seorang Febri kecil pun tumbuh menjadi seorang Febri remaja…jumlah teman pun bertambah banyak dan area untuk bermain ku semakin luas, dan tak jarang pula orang tua ku berkali-kali mengingatkan ku jangan sampai salah untuk memilih teman.
***
Suatu ketika saya sadar bahwa nantinya aku tidak akan selamanya menjadi seoarang Febri remaja apalagi Febri kecil yang selalu dimanjakan oleh kakak-kakak dan kedua orang tua ku hingga aku berpikir suatu saat nanti aku akan menjadi seorang Febri dewasa yang tak lagi kenal dengan yang namanya manja. Febri nantinya akan menjadi seorang yang mandiri. Dan sejak itu pula seorang Febri mulai memikirkan tujuan hidupnya, hingga suatu hari sempat terpikirkan untuk ssebuah citi-cita untuk “Menyempurnakan Rukun Islam bersama Kedua Orang Tua Ku” dan hingga saat ini saya jadikan itu sebagai visi hidup ku yang utama. Yang ku inginkan adalah suatu saat nanti aku bersama kedua orang tuaku bisa menapakkan kaki ini di depan Baitullah. Mudah-mudahan Allah memperkanankan semua itu. Amien . . .
***
Sampai maut menjemput pun Febri hanyalah seorang manusia biasa yang setiap harinya hidup dalam kesederhanaan. Tetapi dengan segala kesederhanaan itu aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi orang yang luarbiasa dan Aku mempunyai keeninginan menyekolahkan 6 keponakanku yang saat ini masih balita. Ku ingin mewujudkan mimpiku itu karena aku merasa berhutang budi kepada ketiga kakak ku yang selama ini banyak membantu ku hingga usiaku yang keduapuluh. Memang itu bukan kewajibanku untuk menyekolahkan keponakanku,,tapi ku lakukan itu karena ku sayang kepada mereka. Mudah-mudahan apa yang telah diperbuat kakak-kakak ku selama ini Allah jadikan tambahan amal ibadahnya. Amiien . . .
***
Selain itu, ada banyak lagi impian ku yang ingin suatu saat nanti menjadi sebuah realita yang nyata dalam hidupku. Aku ingin jika lulus nanti aku mendapatkan pekerjaan yang ku inginkan dan sejalan dengan bidang ku dan bergabung dengan sebuah lembaga traiing motivation sebagai seorang trainer.
Untuk merealisasikan mimpi-mimpi ku itu, aku harus optimis meskipun untuk saat ini roda kehidupanku berada dibawah dan aku yakin suatu saat nanti roda kehidupanku akan berada di puncak kesuksesan.
Seorang Febri hanyalah manusia biasa,sama seperti orang yang lain Aku hanyalah LELAKI AKHIR ZAMAN YANG PUNYA CITA-CITA. Mudah-mudahan Allah mengijinkan ku merealisasikan mimpi ku itu. Amin …

Salam Persahabatan . . .

About febrian hadi

Biasa Namun Tak Sederhana

Posted on 4 Februari 2010, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan berkomentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: