Belajar Dari Proses

Motivasi Belajar Beberapa hari belakangan euforia mengenai nilai akhir semester sangat heboh di kampus, seakan tidak ingin ketinggalan ke eksistensiannya para mahasiswa pun membanjiri situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan mungkin di BBM dengan celotehan mereka juga soal nilai.

Ada yang gembira, ada yang bersedih. Itulah liku-liku nasib sebagai mahasiswa. Kebanyakan mahasiswapun hanya mengejar IP (Indeks Prestasi) yang bagus. Di benak mereka tertanam bila mendapat nilai bagus itu artinya kelak akan menjadi orang sukses dan akan menjanjikan kebahagiaan.

Sedangkan mahasiswa yang mendapat nilai kurang baik hanya bisa gigit jari, menyesal, dan menangisi semua kesempatan belajar yang ada. Memang kata menyesal selalu muncul di akhir cerita, memang begitu hukumnya, kalau kata menyesal itu muncul di awal itu namanya harapan. Kebanyakan dari mahasiswa akan menyalahkan tim pengajar karena memberi nilai kurang memuaskan. Kecenderungan memberikan stereo type, penilaian negatif tanpa mau introspeksi diri. Tetapi apakah dengan nilai yang kurang memuaskan lalu mereka harus kecewa? Rasanya sayang sekali kalau hanya menyesal dan menangis. Kalau kita mau sedikit merundukkan hati, maka Allah Yaa Lathiif akan melembutkan hati kita dan kita akan berpikir lebih jernih. Mengapa kita bisa mengalami kegagalan ataupun kesuksesan dalam belajar? Cerita yang saya alami beberapa waktu belakangan ini, membuat hati saya tergugah untuk memaknai arti dari “euforia nilai”.

Sebenarnya apa sih yang dicari dari kuliah? Kuliah pada hakekatnya adalah bentuk pengabdian kepada Yang Maha Cerdas, Ar-Rosyiid. Jadi kenapa kalau nilai kurang memuaskan kita malah menganggap diri kita yang bodoh ataupun dosen yang terlalu pelit memberikan nilai? Saya jadi ingat pernah mendapatkan sebuah pesan singkat yang berbunyi “Kalau apa yang kita inginkan belum dipenuhi oleh Allah, maka coba lihat shalat kita. Sudahkah kita menjalankannya tepat waktu?.”

Mungkin saya bisa menganalogikan pesan itu dengan cerita ini. Ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai yang kurang memuaskan, cobalah lihat usaha yang mereka lakukan. Sudahkah mereka belajar dengan giat, sudahkah mereka benar-benar memahami materi yang dujikan, atau sudahkah mereka mau mengakui kekuatan dan kelemahan diri dalam belajar. Sudahkah mereka menghargai prosesnya?

Jika kita menginginkan rejeki yang lebih maka Allah menganjurkan kita untuk melakukan shalat Dhuha dan melakukan shalat malam untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Jika kita menginginkan nilai dan IP yang baik sudahkah kita belajar dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita benar-benar meminta pertolongan kepada-Nya?

Jangan sampai kita menutup hati dengan mengikuti emosi, ketika melihat kenyataan mendapat nilai yang kurang memuaskan alangkah bijaknya kita kembalikan kepada diri kita. Introspeksi diri untuk menilai usaha yang kita lakukan dan belajar menghargai proses dibalik pencapaian suatu hasil.

Jika kita mampu menghargai prosesnya maka kita akan mampu merasakan kebahagiaan. Sesungguhnya kebahagiaan bukan berada di angka A, B, C, atau D sebagai pencapaian nilai tetapi kebahagiaan berada di balik proses kejujuran (tidak mencontek) dan penuh tanggungjawab dalam berusaha.

Artikel Lainnya :

About febrian hadi

Biasa Namun Tak Sederhana

Posted on 15 Januari 2012, in Karakter, Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Silahkan berkomentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: