Review buku ”Character Building”

 Karakter : Urgen, Tapi Mulai Dari Mana? 

character building

character building

Liburan? Tapi masih bertahan di kost/kontrakan? Itu yang dirasakan saya pada liburan semester kali ini. Untuk mengisi kekosongan selama liburan di Baitul ‘Fath (kontrakan ku) saya isi dengan membaca buku, buku pertama tentang “Character Building” karangan Erie Sudewo dan yang kedua buku “Bank Kaum Miskin”. Untuk buku yang kedua yang saya pinjam dari Mas Rafsan ini belum saya sentuh sama sekali. [tunggu giliran bacanya]

***

Sering kita mengatakan atau mendengar kata karakter, tapi apa makna dari kata itu. Bahkan kemelut Indonesia yang makin carut marut ini diyakini karena ketiadaannya karakter. Memang banyak yang mengatakan  bahwa bangsa ini kehilangan karakternya. Di televisi atau media massa lainnya, sering kita temui statmen semacam ini.

Namun, ketika ditanya apa itu karakter semuanya tergagap menjawabnya bahkan diam seribu bahasa. Karakter sesuatau yang harus diketahui, namun sebagian besar tidak tahu bahkan tidak mau tahu. Sesuatu yang dianggap penting namun sebagian orang menganggap remeh. Oleh karena itu kita harus kenal dan paham siapa diri ini sebenarnya. Teringat tentang materi Pengenalan Diri dan Pengembangan Diri saat LKMM Pra TD saat kuliah dulu. Masih inget, waktu itu pemandunya Mas Arief dari FTK.

Pelatihan Softskill-LKMM TD

Pelatihan Softskill-LKMM TD

Dalam buku ini menyebutkan sesungguhnya dalam merebut kemerdekaan, bangsa yang terkenal dengan sebutan Negara maritime ini mempunyai banyak episode karakter. Namun, saat mengisi kemerdekaan perilkau kita justru mencerminkan sebuah karakter itu. Seolah-olah karakter itu hanya untuk masa-masa perjuangan yang kental dengan aroma perjuangan. Yang hanya layak menjadi kenangan dan pajangan. Sebagai contoh saja, untuk saat ini adakah tayangan sinetron di televisi yang memiliki pendidikan karakter?  Setiap hari yang dipertontonkan kepada masyarakat adalah sebuah perjalanan cinta seseorang yang menyedihkan dan ujung-ujungnya bertemu happy ending. Ah, bosan. Hampir setiap hari diisi dengan cerita yang sama hanya tempat, pemain dan alur yang berbeda. Sesuatu banget ya  (ala Syahrini)

Negara kita Indonesia tercinta yang berpenduduk 204-an juta lebih adalah kekuatan yang sangat besar (sebenarnya). Namun untuk mencari sebelas pemain yang berlaga di ajang Sepakbola Internasioanal saja kita kesulitan. Kita punya banyak pegawai, namun apa yang dikerjakan dan untuk siapa? Sama halnya korupsi (baca: orang tidak jujur), mau jujur bersih dari korupsi lingkungan mengucilkan. Ingat cerita Ibu Siami yang berlaku jujur saat ujian anaknya, dimana telah terjadi contekan massal. Justru orang yang berbuat kebaikan (baca, jujur) dikucilkan di masyarakat. Aneh.

Dalam buku ini juga dituliskan, Indonesia ini sungguh aneh. Orang yang ingin berbuat baik saja di diasingkan. Bahkan oleh sebagian pihak dianggap sebagai musuh. Yang benar disihkan. Anomali jadinya. Kita ingin memadamkan air, tapi kita menyiramnya dengan bensin. Kita mau meluaskan ritel pasar modern ternyata semua itu mematikan warung-warung ditengah masyarakat. Inikah pembangunan?

Untuk hal ini benar adanya, saya pernah melakukan riset di salah satu pasar di Surabaya selatan (Tugas Kuliah Riset Pasar). Bahwa omset mereka semakin hari semakin menurun seiring berdirinya pasar-pasar modern disekitar pasar tradisional.

Dari buku ini pula, ada beberapa hal yang saya menurut saya perlu digaris bawahi. Diantaranya,

  • Pertama, disekitar kita telah terjadi kesesatan berjamaah.
  • Kedua, ini tanda tidak ada tujuan.
  • Ketiga, tanpa tujuan, tiap orang leluasa penuhi hasrat dan kepentingan.
  • Keempat, dalam kondisi seperti ini tidak ada pemimpin.
  • Yang ingin mengingatkan pasti digebuki seperti aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW).
  • Dan yang terakhir, yang coba bongkar siap-saplah jadi korban. Bahkan bisa saja menyertet anak istri. Siapa yang mau coba?

Kesimpulan dari apa yang saya baca adalah karakter memang penting. Tidak kalah penting dengan matematika dan bahasa inggris yang dipelajari anak-anak usia sekolah dasar. Bahkan lebih penting dari itu semua, karena karakter posisinya adalah pondasi. Dengan karakter yg telah dibangun, apapun kompetensi yang dibangun diatas pondasiberdiri tegak dan benar.

Artikel Lainnya :

About febrian hadi

Biasa Namun Tak Sederhana

Posted on 28 Januari 2012, in Motivasi, Review Buku. Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. saya lagi nganggur, dan tak satupun buku sya sentuh hehe *emang dasarnya pemalas..

  2. keren mas,moga terus keren,hehe

  3. liburan ini musimnya TD ya?

  4. buku ini hadir dengan pelajaran dan motivasi kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
    by rumah buku islami

Silahkan berkomentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: