Ceramah Agama Oleh Prof. Ir. M. Nuh, DEA

Prof. Ir.M. Nuh. DEA

Prof. Ir.M. Nuh. DEA

Masjid Manarul Ilmi ITS, Surabaya – Setelah menyampaikan rasa syukur kehadirat ALLAH SWT atas nikmat umur dan kesehatan, Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh mengingatkan kemajuan yang luar biasa Masjid Manarul Ilmi, mngingat 30 tahun yang lalu saat masih jadi mahasiswa, masjid ini hanya terdiri dari tiang tiang saja, dan kini, megah termasuk masjid kampus yang besar dengan suasana yang meriah dan banyak aktifitas yang membanggakan.

Kemudian menyitir ayat dari suatu surat yang sangat terkenal, tidak disebutkan surat dan ayatnya (agar mahasiswa mencari sendiri) tentang kemurtadan. Yang bunyinya :

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S. Al Maidah :54

Bila orang orang beriman meninggalkan Islam, Allah akan menurunkan Generasi Baru dengan ciri bahwa “Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.” Yaitu lemah lembut kepada orang mukmin dan keras kepada orang kafir. Keras tidak berarti kasar! Karena keras masih memperhatikan adat dan tingkah laku masyarakatnya. Ahlul jihad (senantiasa berjihad di jalan Allah) mereka selalu berada di garis terdepan pertahanan kaum muslimin, jika terhenti maka segera mencari barisan yang lain untuk kembali menghidupkan syariat jihad.” Ujian dan fitnah tidak bisa menghentikan mereka, makar dan kekuatan musuh tidak mereka takutkan baik pengusiran, penyiksaan, penjara atau kematian. Ahlu Sobr (orang yang sabar dan teguh pendirian), memiliki bekal sabar dan keteguhan yang tinggi tanpa itu dia akan selalu dilanda rasa kecewa, cemas, bahkan sampai putus asa dan akhirnya ia tinggalkan jalan perjuangan dan jadilah orang yang termasuk murtad dari dien Allah, Naudzubillah min zdalik.

Apa konstelasinya dengan keadaan di Indonesia saat ini ?

1. Kita bersyukur menjadi orang Indonesia, 7 milyar penduduk dunia, 240 juta sebagai bangsa Indonesia, yang mayoritas Islam, bahkan Islam terbesar di dunia adalah di Indonesia.
2. Kemungkinan besar kebangkitan Islam di dunia itu muncul dari Indonesia, asalkan ummat Islam Indonesia mampu mempertahankan adat istiadat lama yang baik (yang lama belum tentu jelek, sehingga yang lama harus dibuang semua), dan mau mengadopsi sesuatu yang baru dengan tata nilai yang baik sesuai dengan kepribadian dan budaya nasional.
3. Kita harus sadar bahwa mobilitas dunia sekarang ini tinggi sekali. Coba bayangkan dudu sanak dudu kadang, “Super Junior” dari Korea, saat tiba di terminal Soekarno Hatta dielu elukan oleh para remaja bahkan ada Orang yg sudah dewasa. Ketika Super Junior lewat didepan mereka, tidak sedikit histeris ! iku opo opoan ?

4. Kalau kita tidak mampu mengembangkan budaya Nasional sendiri habislah kita. Hancurlah kita !

5. Untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya nasional, diperlukan ilmu. Ilmu itu perhiasan, makiun banyak ilmu, makin banyak perhiasan, berarti makin kaya kita !

Saya ingat saat masih duduk di Sekolah Dasar, diajari puisi tentang pentingnya menuntut ilmu, setelah di SMP dan SMA puisi sudah tidak adalagin, begitu juga saat menjadi mahasiswa di ITS

Sambil dinyanyikan, bait bait puisi tersebut sebagai berikut : “akhiya, lana tanalal ilmu, ila bisyitati……….dst “ kalau diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut : Saudaraku ! kamu tidak akan mendapat ilmu, kecuali dengan enam perkara, 1) kecerdasan 2)kethoma’an terhadap ilmu 3)kesungguhan 4) perlu bekal 5) bergaul dengan orang pandai dan guru 6) memerlukan waktu yang seringkali panjang

Ada lagi puisi dari Imam As Syafi’i : “Ta’laman falaisyal mar’u….. dst “ yang artinya : “Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sesungguhnya, suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu, maka sebenarnya kaum itu adalah kecil dan sesungguhnya kaum yang kecil tetapi memiliki ilmu, kaum tersebut adalah kaum yang besar.

Disamping masyarakat dunia itu memiliki mobilitas tinggi, ilmu sendiri bersifat konvergen. Kalau dulu hanya menghasilkan suara saja, kemudian disusul dengan teknologi yang menghasilkan gambar saja, maka sekarang suara dan gambar menjadi satu, seperti TV dan telpun bisa dimatikan dengan gambar sekaligus.

Membangun peradaban bangsa harus bersifat konvergen, demikian pula membangun perdaban Islam harus konvergen, terutama agar peradaban yang kita bangun dan kita kembangkan harus berorientasi kepada Ampunan Allah, peradaban yang penuh rahmatNYA dan peradaban yang menjauhkan kita dari api neraka.

Demikian ringkasan ceramah Prof DR Ir M Nuh, Mendiknas RI saat terawih di Masjid Manarul Ilmi ITS SABTU 21 Juli 2012

Ditulis Oleh Alumni Senior Teknik Kimia ITS

About febrian hadi

Biasa Namun Tak Sederhana

Posted on 24 Juli 2012, in Agama and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Silahkan berkomentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: