Kampanyekan Tayangan Sehat

 Kali ini akan membahas tentang opini -pribadi- tayangan televisi yang semakin tidak sehat. Sebenarnya enggan untuk mengulasnya, namun dipikir-pikir rasa-rasanya sudah tidak tertampung lagi dan harus ditumpahkan melalui sedikit ulasan. Mudah-mudahan saja teman-teman punya anggapan yang sama dan rela memberikan sedikit komentarnya.

Seperti kita pahami  televisi telah menjelma sebagai sahabat terhadap penikmatnya. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun tak luput dari godaannya. Pasalnya penikmat tayangan televisi terdiri dari banyak varian usia. Bahkan di lingkungan keluarga yang orangtuanya sibuk bekerja diluar rumah, televisi mempunyai peran ganda; ialah sebagai hiburan serta sebagai pengganti peran orangtua mendampingi keseharian anak (walau tidak semuanya seperti ini).

Akhir-akhir ini saya pribadi kembali terusik dengan tayangan-tayangan yang makin tidak sehat. Tayangan-tayangan yang disajikan sungguh tidak ada sisi positifnya (menurut saya). Sebut saja saat sore hingga malam menjelang. Lawakan-lawakan yang menghiasi layar kaca sungguh sangat tidak bermutu. Bukan lawakan sepertinya, namun pelecehan terhadap lawan main. Yang satu melecehkan dengan lawakan khasnya, yang lain menuangkan bedak ke muka lawan main (entah bedak atau tepung yang digunakan). Satu lagi, di stasiun tv swasta yang lain menampilakan ‘goyangan’ yang tak sepatutnya dipertontonkan. Mungkin produser atau tim kreatifnya lupa bahwa penontonya terdiri dari usia yang bervariasi yang tidak hanya dari kalangan dewasa, namun juga anak-anak yang secara belum paham benar membedakan mana yang baik ditonton mana yang tidak. Ah rasanya tidak mungkin kalau lupa, toh ditayangkannya setiap hari.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa setiap hari kita dihibur dengan tontonan yang seperti tersebut diatas. Apakah setiap malam kita bersedih, hingga setiap malam perlu dihibur yang sedemikian? Ah rasa-rasanya terlalu berlebihan jika alasannya tersebut.

Bila ditelisik sesungguhnya media mempunyai peran penting dalam mendidik generasi kedepan. Namun ironisnya ditengah-tengah peran vital media selaku hiburan keluarga, kini telah mengalami disorientasi dalam peranan mendidik penikmatnya.  Pasalnya, kini dunia pertelivisian terancam oleh unsur vulagrisme, kekerasan dan pornografi. Bila ini tetap dibiarkan akan berbahaya terhadap generasi penerus. Mari kita awasi bersama tayangan-tayangan yang ada, lindungi anak-anak kita (emang saya sudah punya anak? Nikah aja belum.. hehe) dari bahaya tontonan.  Saya pernah mengkritisnya di jejaring twitter, saat itu ngetwit menggunakan hastag #BahayaTontonan dan langsung di mentionkan ke @KPI_Pusat namun belum ada tanggapan. Mudah-mudahan dengan teman-teman membantu melaporkannya ke Komisi Penyiaran Indonesia dapat lebih selektif memberikan ijin penayangan serta menekan angka unsure vularisme, kekerasan dan pornografi tersebut.

Salam.

About febrian hadi

Biasa Namun Tak Sederhana

Posted on 28 November 2013, in Cerita, Karakter and tagged , , . Bookmark the permalink. 25 Komentar.

  1. Masrifa Wina Andriani

    perdana😀

    ambu jek ningguwen pas, wkwk

  2. ga usah ditonton mas🙂

  3. kenapa ndak sebut merer, mas. sebut saja tontonan yang tidak baik itu “Kian Sintang”, misalnya:mrgreen:

  4. untung aku g punya tipi :p

  5. Tayangan TV telah berubah 180 derajat dari tayangan TV sewaktu kecil dulu … dulu penuh dengan pesan2 moral mendidk, sekrang jauuuh😦

  6. bagus bagus

  7. Sejujurnya, saya merindukan tontonan televisi yang mendidik seperti keluarga cemara atau Si Doel. Dan sudah saya posting juga di blog saya. Salam kenal ^^

  8. setiap channel bikin goyangan. berlomba-lomba mempertontonkan kebodohan masing-masing.
    Tapi di balik itu ada rejeki bagi pemainnya.

Silahkan berkomentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: