Arsip Blog

Penyakit Belajar

Kali ini masih berbicara tentang belajar. Jika pada postingan sebelumnya ajakan untuk terus belajar, kali ini akan membahas tentang penyakitnya. Seperti hati dalam tubuh, belajar pun juga ada penyakitnya. Apa aja penyakitnya? Sila disimak!

Disuatu kesempatan saat asik membaca buku, ku dapati bacaan tentang ‘penyakit belajar’. Penjelasan ‘penyakit belajar’ ini saya temukan di buku karangan Mas Surya Kresnanda dibukunya yang berjudul ‘Generasi MPV ~Muda-Profesional Visioner~’ pada subbab “Penyakit Belajar”

Dijelaskan ada tiga hal yang menjadi bibit penyakit dalam mendulang ilmu. Tiga penyakit itu disebutnya BEC atau Blame, Excuse dan Complain.

Iklan

Terus Belajar

Terbilang cukup lama tidak menulis lagi di rumah virtual ini sejak sulit login dua bulan lalu. Kurangnya membaca akhir-akhir ini seakan-akan tertutup dari inspirasi dan imajinasi yang kemudian dishare di rumah virtual ini. Namun kurang elok rasanya bila menyalahkan keadaan, sedang niatan belum pernah dilakukan. Beruntung segera ku sadari bahwa diri ini haruslah tetap belajar. Teringat pada pesan sang guru bahwa; “Belajar itu bukan untuk sesiapa yang berstatus pelajar, namun jua status yang diluar itu.”
Baca Terus Belajar Selengkapnya

Belajar Dari Proses

Motivasi Belajar Beberapa hari belakangan euforia mengenai nilai akhir semester sangat heboh di kampus, seakan tidak ingin ketinggalan ke eksistensiannya para mahasiswa pun membanjiri situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan mungkin di BBM dengan celotehan mereka juga soal nilai.

Ada yang gembira, ada yang bersedih. Itulah liku-liku nasib sebagai mahasiswa. Kebanyakan mahasiswapun hanya mengejar IP (Indeks Prestasi) yang bagus. Di benak mereka tertanam bila mendapat nilai bagus itu artinya kelak akan menjadi orang sukses dan akan menjanjikan kebahagiaan. Read the rest of this entry

Belajar Dari Bulan, Bumi dan Matahari (BBM)

Terang Bulan
Bulan

Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan seperti biasanya kantuk ini pun tak kunjung datang. Suasana kontrakan pun kian sepi, hanya meninggalkan suara televisi yang ditinggal tidur penghuninya. Ingat kata seorang teman, obat mujarab ketika sulit tidur adalah membaca buku. Buku yang saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya belum sampai dua halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula dengan bukunya. Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, fikiran mencerna dan seringnya hati cenut-cenut. Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: